Created By: Imran Nur Hakim
Masa awal-awal kemerdekaan (1945-1948) merupakan masa yang paling menentukan bagi perjalanan bangsa dan Negara ini kedepannya. Bagaimana tidak, banyak peristiwa dan keputusan-keputusan yang di ambil pada masa ini berimbas langsung bagi keberlangsungan pemerintahan Negara dan republic Indonesia, entah itu berimbas dalam artian positif atau negative sekalipun. Hal ini tentulah tidak aneh, mengingat periode itu menjadi masa transisi yang sangat penting, dari Negara yang sebelumnya selalu di tindas oleh praktek kolonialisme menjadi Negara yang harus menentukan arah dan tujuan dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Tak terhitung banyaknya peristiwa dan kejadian penting ag terjadi pada masa itu, dan dua di antaranya adalah perjanjian linggarjati dan perjanjian renville.
Terkait dengan kedua perjanjian tersebut, mungkin beberapa nama penting akan selalu di ingat dan berperan besar dalam perjanjian tersebut, seperti Sutan Sjahrir, Amir Syarifuddin dari pihak Indonesia dan tim dari belanda yang di ketuai schermerhorn dengan anggota H.J. van Moo. Tapi di balik semua itu, keberhasilan pemerintah menangkap dan memenjarakan tan malaka dkk selama lebih kurang dua setengah tahun tanpa di adili dan alasan yang logis, secara tidak langsung juga mamberikan ruang untuk terselenggaranya kedua perjanjian tersebut.

Selain factor di atas, terselenggaranya perjanjian tersebut juga di picu oleh factor lain yaitu kedatangan tentara inggris pada tanggal 26 september 1945 dengan alasan untuk melucuti senjata tentara jepang. Rakyat yang tidak begitu saja percaya dengan alasan itu dan menduga akan adanya usaha dari inggris dan belanda (terutama belanda) untuk kembali mendirikan pemerintahan colonial. Kecurigaan itu menimbulkan perlawanan di banyak daerah apalagi ada indikasi yang memperkuat dugaan tersebut, dan tak lama kemudian memuncaklah perlawanan rakyat di Surabaya yang di kenal dengan peristiwa 10 november.

Di sinilah terjadi sebuah peristiwa yang ironis, soekarno hatta malah datang ke Surabaya untuk menghentikan perlawanan tersebut. Hal ini tentu sangat menyesakkan, karena sebagai pemimpin mereka seharusnya ikut serta dalam perlawanan terhadap pihak yang ingin mengembalikan pemerintah colonial di Indonesia, bukan justru menghentikan perlawanan yang membela kemerdekaan tersebut. Sikap kedua pemimpin ini merupakan semacam pengkhianatan terhadap proklamasi yang justru mereka bacakan sendiri. Peristiwa itu juga menandakan adanya ketidaksatuan antara keinginana rakyat dengan para pemimpinnya terkait dalamcara mempertahankan kemerdekaan.

Tak hanya sampai di situ, setelah pertempuran besar di Surabaya tersebut upaya belanda untuk mengembalikan pemerintahan colonial terus berlanjut dengan menggunakan berbagai cara yang pada akhirnya menyeret pemerintah untuk menyetujui perjanjian lingarjati. Dan pada saat inilah salah satu kekeliruan terbesar yang di lakukan oleh pemerintah yaitu dengan menagkap tan malaka dkk.

Tan Malaka dkk di tangkap pada tahun 1946 dengan alasan palsu yang di berikan oleh pemerintah yaitu  melakukan oposisi illegal semakin memperkeruh suasana pada awal-awal masa kemerdekaan (pada akhirnya Amir Syarifuddin mengakui bahwa penagkapan Tan Malaka dkk adalah permintaan pihak delegasi yang berunding di Linggarjati). Bagaimana tidak, pada saat itu tan malaka boleh di bilang mempunyai pengaruh yang sebanding dengan Soekarno-hatta terhadap rakyat, terutama dalam sikapnya yang  yang konsisten untuk tidak bekerja sama dan menentang pemerintahan colonial (apalagi ada indikasi yang menunjukan bahwa pemerintah hindia belanda ingin mengembalikan kekuasaannya di Indonesia) dan menuntut untuk tercapainya kemerdekaan 100% bagi Indonesia.

Implikasi nyata dari sikapnya itu adalah bagaimana ia menentang dengan keras aksi yang di lakukan oleh pemerintah dalam perjanjian linggarjati dan renville yang pada akhirnya justru mendatangkan kerugian sangat besar bagi Indonesia. Keputusan pemerintah untuk menyetujui perjanjian linggarjati dan renville merupakan sebuah kebodohan masa lalu yang di ulang. Semuanya tentu ingat bagaimana pada saat Indonesia masih terdapat banyak kerajaan dan pihak belanda mengajukan perjanjian dan ironisnya malah belanda sendiri yang melanggarnya. Hal seperti ini tentu bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk mementukan langakah di masa depan. Namun dengan di terimanya usul perundingan linggarjati renville, pemerintah justru terkesan memasuki perangkap yang sama dan tidak belajar dari kejadian-kejadian masa lalu itu.

Terkait dengan perjanjian linggarjati dan renville itu sendiri, tan malaka menyebutnya sebagai sebuah kekalahan besar dan bahaya yang tak terhingga bagi kemerdekaan republic indonesia. Bagaimana tidak, Negara yang telah memproklamirkan kemerdekaannya tidak seharusnya berunding dengan musuh yang menyerbu masuk dan ingin merampas kemerdekaan itu. Dengan di ambilnya jalan perundingan yang jelas-jelas merugikan menunjukkan kelemahan sikap dan mental dari pemimpin Indonesia pada waktu itu.

Pemimpin Indonesia waktu itu (soekarno,hatta, sjahrir, amir sjariffudin) khususnya, tidak mampu melihat apa yang sebenarnya di ingini oleh masyarakat. Berkaca dari peristiwa 10 november, sudah jelas terlihat bagaimana semangat rakyat untuk melindungi proklamasi itu sendiri, memberontak dan mengadakan massa aksi yang nyata dalam mempertahankan kemerdekaan. Soekarno,hatta, sjahrir dan amir sjarifuddin sebagai pemimpin waktu itu seharusnya bisa melihat keinginan yang ada dalam hati rakyat tersebut dan bukannya malah mengambil tindakan keliru dengan menangkap tan malak ddk yang jelas-jelas mencoba menyampaikan aspirasi rakyat, yaitu bergerilya dan bukannya berunding dengan pihak yang mencoba merampas kesucian dari proklamasi itu sendiri.

Tapi sejarah tetaplah sejarah dengan segala kebaikan dan keburukan yang di datangkannya, seperti yang pernha di tuliskan tan malak dalam bukunya penjara ke penjara:

Sang sejarah tak mengenal penyesalan, tak mengenal perkataan kalau. Apa yangsudah di jalankan oleh sejarah tak bisa di cabut kembali. Tak bisa di periksa kembali, baik atau buruknya, adil atau dzalimnya buat mengulangi kembali perbuatan yang sudah di jalankan oleh revolusi itu adalah benar, sebagai bukti, sebagai suatu kejadian. Dan apa yang di kira benar itu mesti di benarkan dahulu oleh sejarah, oleh kejadian. Cuma kita harusmengambil pelajaran dari yang lampau, supaya dapat menyingkiri yang salah silap dan memakai yang betul, tepat dam baik.

 

. Pada saat itu keberadaan tan malaka merupakan figure yang sangat penting di saat belanda ingin mengembalikan kekuasaannya di Indonesia dan di lain pihak pemimpin waktu itu dwi tunggal (soekarno hatta) menunjukkan sikap ketidakpastian dan kebimbangan dala mengambil keputusan, tan malaka dengan kepastian sikapnya menganjurkan agar kedua pemimpin tadi lekas mengambil sikap untuk segera menentang.